FEMINISME EMANSIPATORIS DALAM PENDIDIKAN ISLAM

PENDAHULUAN

Arus Globalisasi lambat laun semakin meningkat dan menyentuh hampir setiap aspek kehidupan sehari-hari. Sebagai ekses dari globalisasi memunculkan gaya hidup kosmopolitan yang ditandai oleh berbagai kemudahan  hubungan dan terbukanya aneka ragam informasi yang memungkinkan individu dalam masyarakat mengikuti gaya hidup baru yang mereka senangi[1].

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pun di satu sisi memberikan kemudahan hidup bagi umat manusia, tetapi di sisi lain juga dapat menimbulkan berbagai perubahan, diantaranya pergeseran nilai, termasuk praktik-praktik kehidupan di masyarakat. Hal ini diungkapkan Irshad Manji dalam karyanya The Trouble with Islam Today, di mana secara jujur ia mengungkapkan sesuatu yang dirasakan seorang muslim tentang Islam yang “dipraktikkan” dalam masyarakat yang salah satunya mengenai diskriminasi atas kaum perempuan .

Diskriminasi atau mungkin dengan bahasa lain ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender, khususnya dalam dunia publik, kerja dan akademis masih dibenarkan dalam keluarga dan masyarakat. Dalam pemberian upah, rata-rata perempuan berupah 42% lebih rendah dari laki-laki. Dan untuk lebih menegaskan ketimpangan perempuan dalam dunia kerja ialah sistem kepegawaian dalam pegawai negeri sipil (PNS)[3]. Dari sini kemudian dapat dipahami bahwa proses pembangunan yang terjadi selama ini telah memarginalkan kaum perempuan.

Tekait dengan masalah agama, jujur harus diakui bahwa dalam hukum Islam banyak sekali bentuk-bentuk diskriminasi atas kaum perempuan. Ini bukan berarti Islam tak membawa perbaikan bagi hak-hak perempuan. Islam telah banyak membawa hal positif bagi perempuan. Tapi, sementara definisi tentang hak-hak perempuan terus bergerak, hukum “Islam” mogok di tengah jalan, dengan alasan ia sudah ketentuan Tuhan yang tak boleh diotak-atik. “Ulama laki-laki” seakan-akan seenaknya menjustifikasi diskriminasi itu dengan bersembunyi di balik “hukum-hukum Tuhan” yang konon tak boleh diubah. Sehingga ini sama halnya dengan untuk melanggengkan ketidakadilan[4]. Sebanarnya kalau kita telaah, hubungan antara agama dan pemeluknya bersifat dialektis (‘alaqah jadaliyyah); agama tak bisa bersikap “burung unta”, acuh terhadap “protes-protes” yang dilontarkan pemeluknya. Hubungan dialektis tersebut meniscayakan pola hubungan dua arah. Artinya bahwa bahwa agama dan pemeluknya harus saling menyesuaikan diri[5].

 Akibat dari rasa ketidakadilan tersebut, muncul berbagai gerakan yang memberontak terhadap stikma-stikma yang telah ada. Salah satunya adalah dengan munculnya gerakan feminisme. Gerakan ini merupakan gerakan yang selalu marak dan tidak pernah selesai diperjuangkan sekaligus selalu menarik untuk diperbincangkan, diperdebatkan dan didiskusikan. Pro dan kontra terhadap ide gerakan feminisme senantiasa hangat dibicarakan dari berbagai sudut pandang[6].

Kalau mau menengok ke belakang, gerakan feminisme bisa diruntut kepada apa yang pernah diteriakkan oleh wanita-wanita Perancis sejak abag ke-18 M. dilanjutkan oleh kaum feminis Amerika yang dikenal dengan emansipasi. Sedangkan di Indonesia, gerakan ini di kumandangkan oleh tokoh perempuan yang gelisah melihat adanya kesenjangan dalam berbagai aspek kehidupan antara kaum laki-laki dan perempuan. Ia adalah Raden Ajeng Kartini. Kegelisahan tersebut kemudian ia tuangkan dalam Karyanya yang berjudul “Habis Gelap terbitlah Terang”. Kemudian di era pembangunan saat ini, gerakan kaum perempuan diakomodir dengan adanya kementrian pemberdayaan perempuan dan Komnas Perempuan. Serta menjamurnya pusat-pusat studi gender sebagai simbol perjuangan kaum perempuan.

Perlawanan Kartini dalam memperjuangkan emansipasi kaum perempuan pada akhirnya kandas ketika pada 8 Nopember 1903, RA Kartini harus menikah dengan Djojoadiningrat yang ketika itu sudah beristeri  tiga dengan tujuh anak. Setelah diboyong ke Rembang oleh suaminya yang menjadi Bupati di sana, Kartini tidak lagi bicara soal kedudukan harkat dan martabat wanita ataupun tentang pendidikan bahkan tentang poligami, seolah semua perjuangannya itu lenyap tak berbekas. Usahanya dalam menggapai terang setelah kegelapan menyelimuti masih belum selesai ketika RA Kartini dipanggil oleh pemiliknya pada 17 September 1904, empat hari setelah melahirkan anak laki-laki dan satu-satunya.

Namun, siapa sebenarnya sosok Kartini yang sering disebut-sebut tersebut? Ibarat adagium yang dinyanyikan oleh “Candil” Seurieus Band, “Pahlawan juga manusia”. Sosok Kartini pun tak lepas dari sisi kontroversial yang bermnculan dari berbagai pihak yang mempertanyakan keotentikan surat-surat Kartini vis a vis orisinalitas pemikirannya. Apakah betul sosok Kartini mampu memunculkan pemikiran-pemikiran avant garde (melampaui jamannya) saat feodalisme masih mencengkeram kuat dalam kultur dan strutur masyarakat Jawa[7]. Sementara pendidikan bagi kaum perempuan saat itu masih sangat langka, dan kalupun ada masih terbatas pada keluarga ningrat saja.

Namun, terlepas dari hal tersebut di atas, tulisan berikut ini mencoba memotret kehidupan RA Kartini sebagai simbol emansipasi (persamaan hak) kaum perempuan, serta menggali pemikiran-pemikirannya tentang pendidikan dalam mengumandangkan gender inequalitas antara laki-laki dan perempuan.

 

MENGENAL LEBIH DEKAT SIAPA KARTINI

Kartini dilahirkan di Jepara, Jawa Tengah pada 21 April 1879 dari ayah R.M.A.A. Sosroningrat (Bupati Jepara) dan ibu Nyi Ajeng Ngasirah (putri dari KH Madirono dan Nyai Hj. Siti Aminah, pedagang Kopra dari Desa Mayong, Jepara). Namun ketika Kartini kecil dilahirkan, RMAA Sosroningrat pada waktu itu masih menjabat sebagai Wedana[8]. Kartini dibesarkan dalam keluarga yang berwawasan masa depan. Sehingga praktis kegiatannya setiap hari selalu dipenuhi dengan pelbagai kegiatan pendidikan. Tradisi yang demikian merupakan warisan kakeknya yang seorang Bupati Demak yang senantiasa memecuti anaknya anak-anaknya untuk memperoleh pendidikan. Hal ini bisa dimaklumi karena kekek Kartini merupakan  salah seorang penggagas gerakan pembebasan di bidang pendidikan[9].

Akan tetapi kemudian nasib tak berpihak pada Kartini muda karena ia harus menerima kenyataan bahwa saat usia 12 tahun ia harus meninggalkan bangku sekolah untuk kemudian dipingit ke arah penerimaan pelamaran pernikahan. Ayahnya pun yang “notabene” berpendidikan maju tidak kuasa keluar dari budaya Jawa yang mengharuskan untuk memingit putrinya di rumah pada usia demikian.

Untuk meluapkan kekecewaannya, Kartini mengirimkan surat kepada Estelle “Stella” Zeehandelaar bahwa ia ingin seperti gadis-gadis Belanda yang memperoleh kesempatan pendidikan yang sama dengan kaum laki-laki. Sungguh ironis posisi wanita di jaman Kartini, di samping ia harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tidak dikenal, celakanya lagi ia harus rela di madu. Selin itu pandangan kritis lainnya adalah kritik Kartini terhadap agamanya. Ia mempertanyakan kenapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa harus dipahami makna yang terkandung di dalamnya. Agama hanya sebagai alasan untuk memperkuat budaya patriarkhi, berselisih, dan berpisah dengan saling menyakiti[10].

Pada jaman Kartini, budaya Jawa memosisikan perempuan sebagai objek seksual dan “media reproduksi”. Ini bisa ditelusuri dari kisah-kisah yang ada seperti : kisah Ken Dedes, Bharata Yudha, Ramayana; di mana perempuan hanya dipakai sebagai pemuas nafsu seksual dan reproduksi. Perkawinan yang ruh-nya adalah media ke arah ketentraman dan kebahagiaan justru pada sebagian perempuan Jawa menjadi penjara dan pemasungan atas nama agama. Apalagi jika dikaitkan dengan pepatah Jawa : swarga nunut neraka katut yang begitu kental pada budaya ketika itu yang secara substantif mendiskriminasikan suara kaum perempuan. Hal ini kemudian menggugah semangat Kartini untuk membangkitkan kesadaran masyarakat Jawa pada umumnya untuk merapatkan barisan ke arah pembebasan di bidang pendidikan. Perempuan harus disetarakan dengan laki-laki dengan peran partisipatif dan emansipatoris dalam menghantarkan masa depan bangsa ke arah kehidupan yang lebih baik.

 

BEBERAPA PANDANGAN KARTINI TENTANG  PENDIDIKAN

Kartini berkeyakinan bahwa laki-laki dan perempuan harus memperoleh pendidikan yang sama. Pendidikan merupakan kata kunci menuju perubahan peradaban. Orang mungkin tidak perlu lagi memperdebatkan bahwa peradaban merupakan salah satu pilar utama bangunan suatu masyarakat dan bahkan bangsa. Melalui peradaban dapat diketahui maju mundurnya suatu bangsa. Peradaban yang ditandai dengan penyebaran dan kuatnya pemahaman terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian dibingkai dengan keadaban sudah barang tentu akan menghantarkan suatu bangsa kepada kehidupan ideal mereka. Dalam perspektif yang demikian, pengembangan peradaban bagi bangsa Indonesia mencapai titik urgensinya. Hal ini dikarenakan sampai saat ini kehidupan yang dialami bangsa Indonesia dan concern-nya untuk penguatan kecerdasan manusia dalam kerangka perbaikan kualitas SDM masih jauh dari cita-citanya[11]. Dan pendidikan  merupakan salah satu mediator untuk melakukan perubahan.

Selain itu pendidikan merupakan mediator utama pembebasan manusia dari diskriminasi dan penindasan. Khususnya kaum perempuan diharapkan bukan hanya sebagai komoditi domestik melainkan bagaimana bisa memasuki peran emansipatoris dalam pergaulan global yang dinamis dan progresif. Hal ini merupakan suatu keniscayaan karena posisi kaum perempuan sebagai kunci pembuka bagi pendidikan putra – putri anak bangsa.

Berbagai penelitian mengemukakan beberapa sebab marginalisasi gender dalam dunia pendidikan di tanah air. Pertama, sosialisasi pembelajaran kebudayaan yang bias gender. Dalam konteks ini, akibat sosialisasi yang keliru perempuan tidak memperoleh kesempatan pendidikan yang memadai. Kedua, bias gender dalam proses pembelajaran. Dan ketiga, hubungan guru dan murid yang bias gender, misalnya permintaan berwujud perintah menghapus papan tulis yang lebih sering diminta adalah anak perempuan[12].

Pandangan Kartini tentang pendidikan barangkali dapat dijelaskan dalam beberapa hal. Pertama, bahwa kunci kemajuan bangsa terletak pada pendidikan. Oleh karena itu pemerataan pendidikan bagi setiap anak bangsa merupakan suatu keniscayaan. Kedua, sistem dan praktik kependidikan tidak mengenal diskriminasi dalam segala aspek kehidupan, artinya bahwa setiap individu berhak mengenyam pendidikan. Ketiga, pendidikan yang diarahkan pada pencerdasan rakyat secara nasional terbagi dalam pendidikan formal, non formal, dan informal. Keempat, selain diorientasikan kepada pengetahuan dan ketrampilan, pendidikan seyogyanya juga diarahkan pada pembentukan watak serta kepribadian peserta didik. Kelima, pendidikan perempuan harus ditekankan pertama kali sebagai usaha mengejawntah- kan pembangunan kepribadian bangsa secara menyeluruh[13].

Kartini berkeyakinan bahwa pendidikan akan mampu mengantarkan seseorang berfikir secara rasional dan obyektif. Perempuan yang berpendidikan akan lebih tepat dalam pengambilan keputusan tentang apa yang seyogyanya mereka kerjakan. Dan pada gilirannya dengan pendidikan yang setara dengan kaum laki-laki akan mengantarkan wanita memiliki daya-tawar yang sama atau bahkan lebih tinggi dibandingkan kaum laki-laki.

 

PERSPEKTIF  KESETARAAN GENDER

Kata gender sebagaimana dikutip Kadarusman, berasal dari bahasa Inggris gender yang artinya jenis kelamin[14]. Secara etimologi gender yaitu perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari nilai dan tingkah laku. Dalam women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural, berupaya membuat perbedaan (distinction) dalam hal peran; tingkah laku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat[15]. Istilah gender ini pertama kali digunakan oleh Oakley yang diartikan sebagai “behavior differences between women and men that are socially constructed–created by men and women themselves; therefore they are matter of culture[16].

Problematika  gender atau lebih dikenal gerakan feminisme yaitu gerakan kritis terhadap simbol, ideologi, dan kultur yang memperlakukan perempuan secara tidak adil[17]. Gerakan ini berupaya untuk mengangkat posisi wanita dan menutupi seminimal mungkin kesenjangan antara masyarakat maskulin dan feminim baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, maupun pendidikan.

Oleh karena itu, seiring dengan perbedaan latar masalah dan problematika bahwa women movement telah berkubang menjadi banyak aliran muncul akibat adanya ketidakadilan, penindasan, dan eksploitasi terhadap kaum perempuan. Sekalipun timbul perbedaan pandangan mengenai apa, mengapa, dan bagaimana penindasan serta eksploitasi tersebut terjadi, tetapi memiliki pandangan bahwa hakikat perjuangan perempuan adalah demi tegaknya kesamaan, egality, dignity, dan kebebasan dalam relasi kehidupan antara kaum laki-laki dan perempuan.

Apa yang kemudian dilakukan Kartini kiranya juga berangkat dari keyakinan yang sama bahwa dalam rangka mewujudkan dunia baru yang lebih adil, makmur, dan sejahtera; laki-laki dan perempuan harus bergerak, berjuang bersama dan dalam kesamaan kelas menuju secara bebas dan merdeka, yaitu suatu generasi yang tidak mengenal differensiasi kelas, jenis kelamin, etnis, agama, dan sebagainya.

Fenomena gender dalam proses dalam proses formalisasi sunnah sangat penting untuk membuktikan bahwa secara historis kaum perempuan terlibat aktif dalam proses keberagaman. Dalam sejarah kenabian, seorang perempuan yang bernama Khadijah adalah menusia dan perempuan yang pertama yang menyambut risalah kenabian dan sekaligus yang meyakinkan Muhammad akan kenabiannya[18]. Rasulullah sendiri memperlakukan perempuan sebagai salah satu media transformasi pendidikan. Penguasaan perempuan terhadap ilmu pengetahuan ditempuh melalui beberapa metode : (1)  Hadir dalam majlis khusus dan umum seperti khutbah Nabi pada hari raya Fitri dan Adha, (2) Berkumpulnya sahabat laki-laki dan perempuan seperti pada haji wada’ menjadi kesempatan untuk memperoleh hadis dan menyampaikan apa yang pernah di dengar dari Nabi SAW.

Peristiwa Siti Aisyah r.a. menuntut hak kepemimpinan kepada Ali ibn Abi Thalib, dalam perebutan khalifah keempat setelah wafatnya Nabi SAW menjadi mainstream yang mendasari gerakan kaum perempuan. Cuma gerakan ini tidak banyak diapresiasi oleh para ahli sejarah dan politikus (Islam) ke arah yang lebih substansial, yaitu kesamaan hak antara laki-laki dan perempuan, dimana ketika seorang perempuan memiliki kompetensi (daya tawar) yang lebih baik dibandingkan laki-laki, maka perempuan berhak/boleh menjadi pemimpin bagi laki-laki. Gerakan feminisme Aisyah akhirnya tenggelam dari gelombang pemikiran kepemimpinan dalam Islam.

Kekerasan politik-struktural yang mengarah pada penguatan budaya patriarkhi justru akan melahirkan komunitas perempuan yang tidak punya kemandirian dan terus menjadi beban kehidupan bagi laki-laki. Dan hal ini harus segera dihentikan. R.A. Kartini mungkin bisa dikategorikan sebagai wanita pertama Indonesia yang berani menyuarakan pentingnya kemandirian perempuan dan ketidakadilan gender. Gerakan emansipasi yang diangankan Kartini adalah manusia yang harus memperoleh keadilan gender. Sebuah gerakan emansipasi yang mengacu kepada kemitraan antara laki-laki dan perempuan, “berbeda tapi saling melengkapi”. Wanita harus diposisikan sama dengan laki-laki di dalam mengayuh gerak kehidupan di segala situasi dan kondisi[19].

 

PENUTUP

Dari bahasan panjang lebar di atas, kiranya dapat ditarik beberapa hal. Pertama, potret Kartini sebagai sosok  pribadi utuh yang dengan gigih memperjuangkan gerakan pendidikan di Indonesia dan kritiknya terhadap kebudayaan Jawa. Kedua, Cita-cita Kartini terdistorsi dan terdiskriminasi oleh budaya patriarkhi. Ketiga, gagasan Kartini tentang ideologi pembebasan perempuan, dilihat dari perspektif Islam dan kesetaraan gender. Keempat, semasa hidup Rasulullah, perempuan memiliki kesempatan dengan laki-laki dalam menerima hadis.


[1] Muhtarom H.M., Reproduksi Ulama di era Globalisasi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005),  h. 44

[2] Ulil Abshar Abdalla, Menjadi Muslim Liberal, (Jakarta: Nalar, 2005), h. 117

[3] Paulus Mijiran, Kerikil-Kerikil di Masa Transisi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hh. 349-350

[4] Ibid., h. 117

[5] Ulil Abshar Abdalla, op. Cit., h. 118

[6] Imam Tholkhah dan Ahmad Barizi, Membuka Jendela Pendidikan: Mengurai Akar Tradisi dan Integrasi Keilmuan Pendidikan Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004), h. 143

[7] Noertika, “Kontroversi Kartini Kita”, http://Noertika.wordpress.com, diakses tanggal 12 Januari 2008

[8] HCS Puruhito, “RA Kartini”, http://guratanpena.blogspot.com, diakses tanggal 12 Januari 2008

[9] Imam Tholkhah dan Ahmad Barizi, Op. Cit., hh. 146-148

[10] Ibid., hh. 149-150

[11] Abd A’la, Pencerahan Peradaban dalam Perspektif Islam Indonesia, makalah disampaikan dalam acara Stadium General Program Pascasarjana STAIN Tulungagung, tanggal 29 Desember 2005

[12] Paulus Mujiran, Op. Cit., hh. 353-354

[13] Imam Tholkhah dan Ahmad Barizi, Op. Cit., hh. 151-153

[14] Kadarusman, Agama, Relasi Gender dan Feminisme, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005), h. 19

[15] Mufidah Ch., Paradigma Gender, edisi ke-2, (Malang: Bayumedia Publishing, 2004), h. 4

[16] Mansour Fakih, “Kekerasan Gender dalam Pembangunan”, dalam Ahmad Suaedy (ed.), Kekerasan dalam Perspektif Pesantren, (Jakarta: Grashindo, 2000), h. 76

[17] Kadarusman, Op.Cit., h. 1

[18] Kadarusman, Op. Cit., h. 53

[19] Imam Tholkhah dan Ahmad Baziri, Op. Cit., h. 158

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: